Selamat datang di blog yang banyak membahas seputar seni dan seni itu sendiri
Blog ini merupakan blog yang berisi tentang tulisan dan ulasan mengenai lika-liku perjalanan mengabdi pada negara.Ulasan tentang belajar dan materi ajar yang tentunya diambil dari berbagai sumber,untuk kepentingan "Anak Bangsa"
Keberadaan batik tulis Wukirsari memang bermula dari tradisi yang telah berumur ratusan tahun. Sejarah batik tulis Wukirsari tidak lepas dari keberadaan dua makam kerabat Kraton Yogyakarta dan Surakarta, yang dibangun di wilayah tersebut pada tahun 1600-an. Kedua makam tersebut adalah Pasareyan (makam) Giriloyo dan Makam Raja-raja Mataram. Ketika kerabat kraton berziarah ke kedua makam tersebut, terjadilah interaksi antara mereka dengan penduduk sekitar. Seiring dengan interaksi tersebut, diajarkan pula keahlian membatik, sehingga akhirnya penduduk Desa Wukirsari dapat memenuhi kebutuhan batik kraton.
Keahlian tersebut ternyata tetap lestari hingga ratusan tahun kemudian. Sampai sekarang, membatik telah menjadi bagian tradisi penduduk Wukirsari, sekaligus menjadi mata pencaharian sebagian besar kaum perempuannya. Untuk mewadahi aktivitas membatik tersebut, didirikanlah kelompok-kelompok batik yang kemudian bergabung menjadi sebuah paguyuban yang diberi nama Paguyuban Batik Tulis Giriloyo.
Paguyuban Batik Tulis Giriloyo merupakan wadah dari kelompok-kelompok batik tulis di Desa Wukirsari. Paguyuban ini terdiri dari 12 kelompok batik tulis yang berada di Dusun Karang Kulon, Giriloyo, dan Cengkehan. Keduabelas kelompok batik tersebut adalah Batik Bima Sakti, Berkah Lestari, Bima Sakti, Giri Indah, Batik Giriloyo, Sekar Arum, Sekar Kedhaton, Sido Mukti, Sri Kuncoro, Suka Maju, Sungging Tumpuk, dan Pinggir Gunung.
Berikut kami sampaikan beberapa contoh desain untuk tugas Akhir Semester I Tahun Pelajaran 2011/2012. Desain berikut masih cukup sederhana, silahkan untuk dikembangkan lebih lanjut...
Motif (ornamen) merupakan salah satu seni hias yang paling dekat dengan kriya / seni batik apalagi jika dikaitkan dengan berbagai hasil produknya, oleh karena itu untuk membuat dan mengembangkan atau merintis suatu keahlian pada bidang kriya / seni batik peranan motif menjadi sangat penting. Disamping itu dalam hal hias-menghias, merupakan salah satu tradisi di Indonesia yang tidak kalah pentingnya dan tidak dapat dipisahkan dengan cabang-cabang seni rupa lainnya. Peranan motif sangat besar, hal ini dapat dilihat dalam penerapannya pada berbagai hal meliputi: bidang arsitektur, alat-alat upacara, alat angkutan, benda souvenir, perabot rumah tangga, pakaian dan sebagainya, untuk memenuhi berbagai aspek kehidupan baik jasmaniah maupun rokhaniah.
Untuk mempelajari dan menghayati bentuk serta arti seni ornamen, terlebih sampai pada sejarah, makna simbolis, gaya, jenis, cara pengungkapan, fungsi atau penerapannya pada suatu benda atau bangunan dan lain-lain, diperlukan suatu pengetahuan serta kemahiran (skill) tertentu dan waktu yang panjang, mengingat seni motif mempunyai berbagai aspek seperti: jenis motif , corak, perwatakan, nilai, teknik penggambaran, dan penerapan yang berbeda-beda. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk mempelajari, mengerti, menghayati, dan menciptakannya secara baik dengan bertahap, bila didukung oleh kemauan dan rasa ingin tahu yang kuat.
A. PENGERTIAN
Ornamen berasal dari kata “ORNARE” (bahasa Latin) yang berarti menghias. Dapat juga berarti “dekorasi” atau hiasan, sehingga ornamen/motif sering disebut sebagai disain dekoratif atau disain ragam hias.
Dalam Ensiklopedia Indonesia motif adalah setiap hiasan bergaya geometrik atau bergaya lain, motif dibuat pada suatu bentuk dasar dari suatu hasil kerajinan tangan (perabotan, pakaian dan sebagainya) termasuk arsitektur. Dari pengertian tersebut jelas menempatkan motif /ORNAMEN sebagai karya seni / kriya yang dibuat untuk diabdikan atau mendukung maksud tertentu dari suatu produk, tepatnya untuk menambah nilai estetis dari suatu benda/produk yang akhirnya pula akan menambah nilai finansial dari benda atau produk tersebut.
Dalam hal ini ada motif yang bersifat pasif dan aktif. Pasif maksudnya motif tersebut hanya berfungsi menghias, tidak ada kaitanya dengan hal lain seperti ikut mendukung konstruksi atau kekuatan suatu benda. Sedangkan motif berfungsi aktif maksudnya selain untuk menghias suatu benda juga mendukung hal lain pada benda tersebut misalnya ikut menentukan kekuatanya (kaki kursi motif belalai gajah/ motif kaki elang)
Pendapat lain menyebutkan bahwa : motif adalah pola hias yang dibuat dengan digambar, dipahat, dan dicetak, untuk mendukung meningkatnya kualitas dan nilai pada suatu benda atau karya seni. Motif juga merupakan perihal yang akan menyertai bidang gambar (lukisan atau jenis karya lainnya) sebagai bagian dari struktur yang ada didalam. Pendapat ini agak luas, motif tidak hanya dimanfaatkan untuk menghias suatu benda/produk fungsional tapi juga sebagai elemen penting dalam karya seni / kriya(batik, lukisan, patung, grafis), sedangkan teknik visualisasinya tidak hanya digambar seperti yang kita kenal selama ini, tapi juga dipahat, dan dicetak.
Dalam perkembangan selanjutnya, penciptaan karya seni / kriya Motif tidak hanya dimaksudkan untuk mendukung keindahan suatu benda, tapi dengan semangat kreativitas seniman mulai membuat karya motif sebagai karya seni / kriya yang berdiri sendiri, tanpa harus menumpang atau mengabdi pada kepentingan lain. Karya semacam dikenal dengan seni dekoratif (lukisan / Batik atau karya lain yang mengandalkan hiasan sebagai unsur utama).
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa: motif adalah salah satu karya seni / kriya dekoratif yang biasanya dimanfaatkan untuk menambah keindahan suatu benda atau produk, atau merupakan suatu karya seni / kriya dekoratif (seni murni) yang berdiri sendiri, tanpa terkait dengan benda/produk fungsional sebagai tempatnya.
B. MOTIF DAN POLA ORNAMEN
Motif dalam konteks ini dapat diartikan sebagai elemen pokok dalam seni ornamen. Ia merupakan bentuk dasar dalam penciptaan/perwujudan suatu karya ornamen. Motif meliputi:
a. Motif Geometris.
Motif Kawung
Bentuk tertua dari motif adalah bentuk geometris, motif ini lebih banyak memanfaatkan unsur-unsur dalam ilmu ukur seperti garis-garis lengkung dan lurus, lingkaran, segitiga, segiempat, bentuk meander, swastika, dan bentuk pilin, patra mesir “L/T” dan lain-lain. Ragam hias ini pada mulanya dibuat dengan guratan-guratan mengikuti bentuk benda yang dihias, dalam perkembangannya motif ini bisa diterapkan pada berbagai tempat dan berbagai teknik, (digambar, dipahat, dicetak)
b. Motif tumbuh-tumbuhan.
Motif Bunga
Penggambaran bentuk tumbuh-tumbuhan dalam seni motif dilakukan dengan berbagai cara baik natural maupun stilirisasi sesuai dengan keinginan senimannya, demikian juga dengan jenis tumbuhan yang dijadikan obyek/inspirasi juga berbeda tergantung dari lingkungan (alam, sosial, dan kepercayaan pada waktu tertentu) tempat motif tersebut diciptakan. motif tumbuhan yang merupakan hasil gubahan sedemikian rupa jarang dapat dikenali dari jenis dan bentuk tumbuhan apa sebenarnya yang digubah/distilisasi, karena telah diubah dan jauh dari bentuk aslinya.
c. Motif binatang.
Motif Burung
Penggambaran binatang dalam motif sebagian besar merupakan hasil gubahan/stilirisasi, jarang berupa binatang secara natural, tapi hasil gubahan tersebut masih mudah dikenali bentuk dan jenis binatang yang digubah, dalam visualisasinya bentuk binatang terkadang hanya diambil pada bagian tertentu ( tidak sepenuhnya) dan dikombinasikan dengan motif lain. Jenis binatang yang dijadikan obyek gubahan antara lain, burung, singa, ular, kera, gajah dll.
d. Motif manusia.
Motif Manusia Primitif
Manusia sebagai salah satu obyek dalam penciptaan motif yang mempunyai beberapa unsur, baik secara terpisah seperti kedok atau topeng, dan secara utuh seperti bentuk-bentuk dalam pewayangan.
e. Motif gunung, air, awan, batu-batuan dan lain-lain.
Motif Alam Benda
Motif benda-benda alami seperti batu, air, awan dll, dalm penciptaannya biasanya digubah sedemikian rupa sehingga menjadi suatu motif dengan karakter tertentu sesuai dengan sifat benda yang diekspresikan dengan pertimbangan unsur dan asas estetika. Misalnya motif bebatuan biasanya ditempatkan pada bagian bawah suatu benda atau bidang yang akan dihias dengan motif tersebut.
f. Motif Kreasi/ khayalan yaitu bentuk-bentuk ciptaan yang tidak terdapat pada alam nyata seperti motif makhluk ajaib, raksasa, dewa dan lain-lain.
Motif Kalamakara
Bentuk ragam hias khayali adalah merupakan hasil daya dan imajinasi manusia atas persepsinya, motif mengambil sumber ide diluar dunia nyata. Contoh motif ini adalah : motif kala, motif ikan duyung, raksasa, dan motif makhluk-makhluk gaib lainnya.
Sedangkan yang dimaksud pola adalah suatu hasil susunan atau pengorganisasian dari motif tertentu dalam bentuk dan komposisi tertentu pula. Contohnya pola hias batik, pola hias majapahit, jepara, bali, mataram, pesisiran dan lain-lain. Singkatnya pola adalah penyebaran atau penyusunan dari motif - motif .
A. PERSIAPAN 1. NGANJI Sebelum dicap, biasanya mori dicuci terlebih dahulu dengan air hingga kanji aslinya hilang dan bersih, kemudian di kanji lagi. Motif batik harus dilapisi dengan kanji dengan ketebalan tertentu, jika terlalu tebal nantinya malam kurang baik melekatnya dan jika terlalu tipis maka akibatnya malam akan “mblobor” yang nantinya akan sulit dihilangkan. Mori dengan kualitas tertinggi [Primisima] tidak perlu dikanji lagi, karena ketebalan kanjinya sudah memenuhi syarat. 2. NGEMPLONG Biasanya hanya mori yang halus yang perlu dikemplong terlebih dahulu sebelum dibatik. Mori biru untuk batik cap biasanya bisa langsung dikerjakan tanpa dilakukan pekerjaan persiapan. Tujuan dari ngemplong ialah agar mori menjadi licin dan lemas. Untuk maksud ini mori ditaruh diatas sebilah kayu dan dipukul-pukul secara teratur oleh pemukul kayu pula.Mori yang dikemplong akan lebih mudah dibatik sehingga hasilnya lebih baik. B. TAHAP PENGERJAAN
1. NGLOWONG, Pelekatan malam [lilin] yang pertama.
Selesai dikemplong mori sudah siap untuk dikerjakan. Teknik pembikinan batik terdiri dari pekerjaan utama, dimulai dari pekerjaan utama, dimulai dengan nglowong ialah mengecap atau membatik motif-motifnya diatas mori dengan menggunakan canting
Nglowong pada sebelah kain disebut juga ngengreng dan setelah selesai dilanjutkan dengan nerusi pada sebelah lainnya, ada dua cara yaitu :
a. Proses Nglowong dengan cap
b. Proses Nglowong dengan canting
Sejalan dengan ngolowong maka yang dilakukan adalah memberikan isen-isen, yaitu : mengisi rancangan gambar/motif dengan titik-titik, garis, dan ragam hias lainnya dengan menggunakan canting isen-isen
2. Proses Nembok
Sebelum dicelup kedalam zat pewarna, bagian yang dikehendaki tetap berwarna putih harus ditutup dengan malam. Lapisan malam ini ibaratnya tembok untuk menahan zat perwarna agar jangan merembes kebagian yang tertutup malam.
Oleh karena itu pekerjaan ini disebut menembok, jika ada perembesan karena tembokannya kurang kuat maka bagian yang seharusnya putih akan tampak jalur2 berwarna yang akan mengurangi keindahan batik tersebut. Itulah sebabnya malam temboknya harus kuat dan ulet, lain dengan malam klowong yang justru tidak boleh terlalu ulet agar mudah dikerok.
3. MEDEL, Pencelupan pertama dalam zat warna
3.1 Untuk Pewarnaan Tradisional Yaitu :
Tujuan Medel adalah memberi warna biru tua sebagai warna dasar kain. Jaman dulu pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari karena menggunakan bahan pewarna indigo [bahasa jawanya : tom]
Zat pewarna ini sangat lambat menyerap dalam kain mori sehingga harus dilakukan berulang kali, kini dengan bahan warna modern bisa dilakukan dengan cepat.
3.2 Pewarnaan Kimia :
a. Pencelupan
Pemberian warna dengan cara mencelupkan ke dalam larutan zat warna yang dikehendakiproses pencelupan bisa dilakukan beberapa kali
b. Pencoletan
Pemberian warna secara langsung pada bidang kecil dengan menggunakan kuas
4. NGEROK, Menghilangkan malam klowong
Bagian yang akan di soga agar berwarna coklat, dikerok dengan Cawuk [semacam pisau tumpul dibuat dari seng] untuk menghilangkan malam nya.
5. mBIRONI, Penggunaan malam ke tiga
Pekerjaan berikutnya adalam mBironi, yang terdiri dari penutupan dengan malam bagian-bagian kain yang tetap diharapkan berwarna biru, sedangkan bagian yang akan di soga tetap terbuka. Pekerjaan mBironi ini dikerjakan didua sisi kain.
6. MENYOGA, Pencelupan kedua
Menyoga merupakan proses yang banyak memakan waktu, karena mencelup kedalam soga. Jika menggunakan soga alam, tidak cukup hanya satu dua kali saja, harus berulang
Tiap kali pencelupan harus dikeringkan diudara terbuka. Dengan menggunakan soga sintetis maka proses ini bisa diperpendek hanya setengah jam saja. Istilah menyoga diambil dari kata pohon tertentu yang kulit pohonnya menghasilkan warna soga [coklat] bila direndam di air.
7. NGLOROD, Menghilangkan malam
Setelah mendapat warna yang dikehendaki, maka kain harus mengalami proses pengerjaan lagi yaitu malam yang masih ketinggalan di mori harus dihilangkan, caranya dengan dimasukkan kedalam air mendidih yang disebut Nglorod.